Trash Squad adalah sebuah proyek seni yang digagas oleh Wok The Rock dan dikelola bersama komunitas punk di Jakarta, sebagai bagian dari Jakarta Biennale 2013.

Oposisi antara posisi aktif dan pasif, selalu menjadi bagian dari perbincangan dalam ranah seni budaya. Mulai dari perbincangan tentang fungsi seniman sebagai agen masyarakat (agen sebagai posisi aktif) hingga berbagai metode yang ditempuh untuk mengaktifkan audiens (yang sering dianggap sebagai penikmat pasif). Oposisi aktif vs. pasif yang serupa juga bisa ditemukan di gerakan budaya alternatif anak muda, seperti punk. Dalam scene punk, perdebatan mengenai pencapaian kemandirian (otonomi dan juga berarti menjadi aktif) dengan tidak menyerah pada kapitalisme sudah berlangsung lama.

Oposisi ini juga akhirnya turut membentuk dua kubu anak muda yang saling bertentangan satu sama lain, yaitu anak muda dalam gerakan budaya alternatif yang aktif dengan pemikiran kritis vs. anak muda yang konsumtif dan menjadi bagian dari kapitalisme. Walaupun oposisi ini cenderung melakukan penyederhanaan dan menihilkan individualitas, namun dua kubu ini pun melakukan satu aktivitas yang serupa, yaitu nongkrong. Nongkrong adalah sebuah aktivitas dengan makna ganda. Nongkrong dapat menjadi aktivitas pertukaran gagasan dan diskusi, namun nongkrong juga dilihat kontra-produktif karena tidak ‘benar-benar’ melakukan sesuatu.

7eleven merupakan salah satu tempat nongkrong populer di Jakarta. Dengan bentuk swalayan serba ada, 7eleven menjadi tempat bertemunya anak muda dengan berbagai latar belakang dan batasan yang lebih longgar dibanding kafe atau klub. Berbagai alasan digunakan untuk nongkrong di 7eleven, mulai dari bagian gaya hidup terkini hingga tempat rapat yang murah dan mudah dijangkau. Sehingga akhirnya dua kubu anak muda yang tampak saling bertentangan, akhirnya pun berkumpul di ruang yang sama, yaitu pelataran 7eleven.

Maka 7eleven menjadi situs yang potensial untuk menantang berbagai oposisi yang telah disebut sebelumnya. Proyek ini berencana untuk membuat sebuah aksi yang melibatkan beberapa anak punk sebagai tim kebersihan swadaya yang bekerja secara insidentil di beberapa cabang 7eleven di Jakarta. Proyek ini merancang aksi tersebut sebagai sebuah performans sosial, aktivitas relasi estetik atau ‘teater bayangan’ dimana alur kerja merupakan skenario, percakapan yang terjadi secara alami adalah dialog, pekerja dan pengunjung toko adalah aktor dan 7eleven merupakan panggungnya.

Secara singkat, tim kerja ini akan datang dan nongkrong di 7eleven. Setelah menghabiskan makanan/minumannya, mereka akan berdiri, memakai rompi dan atribut tim pembersih, mengibarkan bendera/banner lalu mulai membersihkan meja mereka, meja-meja lain dan pelataran sekitarnya di 7eleven tersebut. Aksi pembersihan ini ditutup dengan menyanyikan lagu mars dan yel-yel tim pembersih.

Gagasan dasar ‘teater bayangan’ ini adalah untuk menantang oposisi aktif/pasif beserta segala turunannya. Misalnya tentang oposisi antara anak muda idealis vs. konsumtif, 7eleven merupakan tempat nongkrong dan rapat favorit bagi beberapa kelompok punk. Sedangkan keterlibatan 7eleven sebagai sponsor acara musik grindcore/punk menimbulkan perdebatan mengenai kompromi atas kapitalisme. Keterlibatan anak punk dalam aksi ini dapat terlihat sebagai bentuk pelayanan terhadap korporat tapi di sisi lain ini terkait dengan ide kebaikan yang bisa kita temukan dalam anarkisme. Menggerakkan ‘anak nongkrong’ untuk bersih-bersih juga merupakan komedi atas slogan-slogan gaya pemerintah yang mengajak anak muda untuk aktif ikut serta dalam pembangunan bangsa. Namun, aksi ini tidak bisa dilihat sebagai sebuah aksi sosial atau seni aktivisme yang memiliki misi solutif. Proyek ini justru bergerak secara eksperimentatif dalam ruang-ruang bias tersebut.

Proyek ini juga akan mengolah dana produksi yang diberikan oleh panitia Jakarta Biennale. Dana, atau dalam proyek ini disebut sebagai ‘modal’ akan diolah menjadi modal baru bagi kepentingan publik. Penyaluran dan penggunaan modal baru tersebut akan diputuskan melalui musyawarah komunitas punk yang terlibat dalam proyek ini di Jakarta.

Seluruh komponen teks dan visual proyek ini menggunakan idiom yang umum digunakan oleh scene punk. Aksi ini akan didokumentasikan dan ditampilkan di venue utama Jakarta Biennale beserta atribut tim kerja (kostum, bendera, kartu kerja), bungkusan sampah dan catatan atau sketsa rancangan kerja. Situs instalasi ini berupa ‘posko’ tim kerja Trash Squad.